PENDAHULUAN
Burung Cenderawasih adalah burung-burung yang termasuk dalam family Paradisaeidae.
Ada 43 Jenis yang tersebar dari Australia bagian timur sampai Pulau
Papua ke barat sampai Maluku. Ada 38 Jenis di Pulau Papua, banyak yang
terbatas di dataran tinggi beberapa terbatas di pulau-pulau.
Cendrawasih adalah burung yang paling terkenal dan dikagumi di Pulau
Papua. Bulu-bulunya saat kawin luar biasa indah dengan peragaan selama
masa percumbuan yang sangat rumit. Kebanyakan jenis agak mirip gagak
atau jalak, paruh dan kakinya sangat kuat, dan terbang bergelombang
sangat bersemangat. Bulu bervariasi dari hitam seluruhnya sampai merah,
jingga, dan hijau berkilauan, dan warna coklat. Kebanyakan memiliki
suara kokokan yang kuat. Sebagian besar jenis yang poligami bentuk
warna pada jantan dan betina berbeda. Jantan berbulu sangat rumit
tetapi betinya kusam. Jantan setia menghadiri tempat peragaan atau
tenggeran pertunjukan, dimana mereka menarik perhatian dan berkencan
dengan betina.
Dalam
Jenis ini, betina membangun sarang dan memelihara anak sendirian. Pada
jenis monogami bentuk warna pada jantan dan betina sama, dan umumnya
berbulu kusam. Jantan dan betinanya tinggal di sarang. Burung
Cenderawasih terbagi dalam tujuh kelompok yaitu:
A. Cenderawasih (3 jenis):
merupakan pemakan buah berukuran agak kecil di pegunungan, bentuk warna
jantan dan betina berbeda, pendek gemuk dengan sayap membundar dan
perilaku umumnya tidak mencolok.
B. Cenderawasih elok: berwarna hitam mirip gagak, bentuk jantan dan betina sama, hidup dihutan sub-alphin di dekat batas tumbuhnya pohon.
C. Manukodia (5 jenis):
berukuran agak kecil di pegunungan berwarna kehitaman mengkilap,
bermata merah, hidup di hutan pamah dan pegunungan yang lebih bawah.
Terbang sangat bergelombang, dengan beberapa kepakan dari sayapnya yang
membundar dan lebar, diikuti dengan melayang sebentar. Ekornya
kelihatan melekat jarang-jarang. Paling mudah diidentifikasi dari
suaranya. Jantan dewasa memiliki trakea aneh berbentuk lup yang tidak
ada pada burung berkicau lainnya.
D. Paradigalla (2 jenis):
hitam seperti beludru, bentuk warna sama, mempunyai gelambir berdaging
warna-warni di puncak paruhnya, hidup di hutan pegunungan kawasan
tengah. Kedua jenis memiliki gelambir berdaging warna-warni di puncak
paruhnya.
E. Paruh Sabit (4 jenis):
umumnya memakan serangga, kehitaman atau kecoklatan, paruh panjang
sempit melengkung ke bawah, dua jenis diantaranya berekor panjang.
Jantan keempat jenis ini memiliki suara keras yang mudah dikenali, yang
merupakan cara termudah untuk menemukannya.
F. Cenderawasih Khas (17 jenis):
kumpulan berbagai jenis yang bentuk dan warna jantan berbeda dengan
betina, seukuran jalak atau lebih besar, pada betina datar bagian atas
berpalang halus di bagian bawah. Jantan terlalu beragam untuk
disebutkan ciri-cirinya. Kebanyakan memiliki suara keras yang
menyingkapkan keberadaannya di hutan.
G. Cenderawasih Paradisaea (7 jenis):
jenis jantan dan betina berbeda, kecuali satu jenis (Cenderawasih biru)
jenis ini dapat menari bersama, hidup di hutan pamah dan pegunungan
bawah. Jantan memiliki bulu pektoral termodifikasi, panjang dan
berwarna cerah yang terdengar sampai jauh sekali. Semuanya kecuali
cendrawasih biru pentas bergaya di tempat pentas bersama.
1. Cendrawasih Jambul (Cnemophilus mecgregorii)
Crested Bird od Paradise (Multi-crested Bird of Paradise atau Sickle-crested Bird of Paradise)
Deskripsi :
25
cm. Jenis pegunungan. Jantan jingga keemasan di bagian atas, bagian
bawah hitam, betina zaitun kecoklatan seragam dengan jambul samar.
Jantan dari tenggara jingga kuning cemerlang di bagian atas, jantan dari
dataran tinggi tengah jingga kemerahan kelam.
Jenis Serupa :
Pada
Namdur api yang hidup di dataran rendah tidak ada warna hitam di tubuh
bagian bawahnya. Cendrawasih loria betina lebih kecil, dengan ujung
sayap merah-karat dan tidak terlihat ada jambul.
Perilaku :
Tidak
mencolok, terlihat sendirian atau dalam kelompok kecil di pohon-pohon
kesukaan yang sedang bernuah di hutan pegunungan bagian atas dan semak
belukar sub-alpin, biasanya di lapisan bawah hutan. Pemakan buah,
perilaku sosial atau peragaan keindahan bulunya tidak diketahui.
Suara :
Biasanya
tenang, salakan tertekan, meledak, diulang setelah interval yang
panjang, mirip suarah namdur jambul emas, yang mungkin meniru jenis ini,
juga suara parau dan kuakan pelan.
Persebaran :
Pegunungan
tinggi di dataran tinggi tengah dan timur, dan tenggara. Ke arah barat
paling sedikit sampai Gunung Giluwe, pada ketinggian 2400-3500 m.
2. Cendrawasih Loria (Cnemophilus loriae)
Loria’s Bird Of Paradise
Deskripsi :
22
cm. Tidak mencolok, kecuali di pohon-pohon sedang berbuah. Tubuh
pendek gemuk seperti anis, sayap dan ekor bundar pendek, jantan hitam
beledu, betina zaitun kehijauan, dengan kilapan coklat muda di sayap
hanya terlihat ketika terbang. Dengarkan suara jantan yang
diulang-ulang.
Jenis Serupa :
Paradigalla
ibinimi lebih besar, ada gelambir muka, ekor sangat pendek dan paruhnya
lebih panjang, lebih ramping. Betina paling mirip dengan cendrawasih
jambul betina, yang agak lebih besar, memiliki jambul samar dan bulu
lebih coklat.
Perilaku :
Tenang
dan tidak acuh, yang memakan buah sebagian atau seluruh-nya di hutan
pegunungan. Jantan datang sendirian ke tempat berkicau di kanopi.
Kemungkinan poligami.
Suara :
Kemungkinan musiman, jantan bersuara kyermg!
Keras mencolok, berirama, diulang monoton dari tenggeran yang sama
dalam waktu yang lama. Pada lereng selatan Peg. Jayawijaya, suara yang
berasal dari jenis ini adalah rangkaian lima nada lebih tinggi,
berirama, tetapi parau dan bersungut-sungut, suara biasanya dikeluarkan
dari tempat di tepi bukit curam.
Persebaran :
Jajaran Pegunungan Tengah, pada ketinggian 2000-2400 m (jarang 1450-3000 m).
3. Cendrawasih Sutera (Loboparadisea sericea)
Yellow-breasted Bird of Paradise (Wattle-billed Bird Paradise)
Deskripsi :
18
cm. Penghuni hutan yang tidak mencolok, pendek gemuk dan ekornya
pendek, bagian bawah dan tunggir kuning-limau keperakan, mahkota,
punggung, sayap dan ekor coklat madu, jantan dengan gelambir hijau pucat
yang menggembung aneh di pangkal paruh. Pada remaja bagian bawahnya
coklat dengan coretan bertotol, bagian atas lebih gelap.
Jenis Serupa :
Tidak ada jenis lainnya yang tubuh bagian bawahnya kuning pucat, remaja jarang ditemui, mirip namdur burik betina kecil.
Perilaku :
Bergerak
lamban dan tenang di bagian dalam hutan pegunungan, sendirian atau
dalam kelompok berbagai ukuran di kanopi dan lapisan bawah, tempat
mencari buah. Perilaku berbiak tidak bisa diketahui.
Persebaran :
Jajaran
pegunungan tengah ke timur sampai sejauh teluk huon (wau), pada
ketinggian 625-2000 m. Terpencar, sering tidak umum atau tidak ada di
habitat yang tampaknya sesuai.
4. Cendrawasih Elok (Macgregoria pulchra)
Macgregor Bird of Paradise
Deskripsi :
39
cm. Hanya di pegunungan tertinggi di tenggara dan barat. Mirip gagak,
dengan gelambir mata kuning mencolok fan bercak oker terang di sayap
yang mencolok ketika terbang, bersuara terus-menerus.
Jenis Serupa :
Karena
gelambir matanya kuning. Melipotes pipi-kuning yang sangat jauh lebih
kecil dapat dikacaukan dengan jenis ini, pada isap madu tidak ada bercak
terang di sayap.
Perilaku :
Biasanya
berpasangan, mudah ditemukan berdasarkan suaranya yagn terus menerus.
Tidak waspada. Bertengger di belukan pepohonan di tepi hutan. Makan
Buah. Monogami. Hutan subalpin di tepi padang rumput, bergabung denga
belukar
Dacrycarpus compactus, konifer ini terlihat sebagai tumbuhan utama sumber makanannya.
Suara :
Dua nada penghubung :
jeet jeet diulang cepat, juga
peer diulang.
Persebaran :
Terpencar
di daerah tertinggi pegununga jayawijaya dan pegunungan star dan di
tenggara, pada ketinggian 3200-3500 m (jarang 2700-4000 m). Tidak ada
di dataran tinggi tengah dan timur.
5. Manukodia Kilap (Manucodia atra)
Glossy mantled Manucode (M. ater)
Deskripsi :
38
cm. Di tepi hutan dan savana. Manukodia terbesar di daratan utama,
perhatikan ekor bundar panjang, paruh besar, penampilan kurus dan
punggung atasnya relatif kusam berkilau. Hati-hati dalam
mengidentifikasi manukodia yang tidak bersuara.
Jenis Serupa :
Cara
terbaik membedakan dari tiga manukodia daratan utama lainnya adalah
berdasarkan habitat dan suaranya. Kebanyakan populasi manukodia
terompet mudah dibedakan dari bulu-bulu di leher dan tengkuk, manukodia
jobi lebih kecil, lebih pendek gemuk, paruhnya tumpul lebih pendek.
Manukodia leher-keriting memiliki bulu mencolok yang berkilauan,
berkerut di dada dan punggung. Perhatikan perbedaan persebarannya :
kicauan semua jenis kecuali manukodia jobi dikenal baik da mudah
dikenali. Tuwur asia-jantan paruhnya pucat. Srigunting lebih kecil,
ekornya menggarpu.
Perilaku :
Sering
berkicau dari puncak cabang mati yang mencolok di tepi hutan. Ketika
terbang, perhatikan penampilan yang terkulai : sayap, tubuh dan ekor
terlihat terputus. Sering berpasangan, monogami. Makan buah dan
serangga. Paling umum di tepi hutan dan di savanna berpohon.
Suara :
Kicauan jantan berupa sialan bernada oooOOOOOOOOoooo
berkepanjangan, meratap, tinggi, monoton, yang dikeluarkan dari
tenggeran tinggi. Nada ini sering dijawab oleh burung lain dengan nada
lebih tinggi, nada suara elektronik berkepanjangan. Burung ini sering
menyambung suara tiruan sederhana. Suara chook khas marga ini.
Persebaran :
Dataran
rendah di seluruh papua juga di tagula, aru dan kelompok pulau papua
barat, pada ketinggian permukaan laut (jarang sampai 1000 m).
6. Manukodia Leher Keriting (Manucodia chalybata)
Crinkle-collared Manucode (Green-breasted Manucode, M. chalybatus)
Deskripsi :
36
cm. Berukuran besar mirip gagak, hitam biru, di hutan perbukitan.
Dalam kondisi yang baik perhatikan postur tegap, bulu beledu berkerut
yang khas di leher, dada dan punggung. Sebagian besar di ketinggian di
atas jenis manukodia kilap yang lebih ramping, nonhutan dan manukodia
jobi yang lebih kecil, paruh dan ekornya lebih pendek. Sering terdapat
bersama manukodia terompet, yang memiliki bulu-bulu leher yang panjang
berbentuk lanset, bentuk lebih ringan, tidak ada tonjolan di atas mata
dan suaranya berbeda.
Perilaku :
Biasanya
pemalu dan bersembunyi. Sering berpasangan. Pemakan buah, terutama
buah pohon ara. Monogami. Hutan dan tepi hutan di perbukitan dan hutan
pegunungan bawah.
Suara :
Nada
suara mirip manukodia lainnya : tuck atau chool, kicauan mudah
dikenali, pada jantan berupa rangkaian delapan atau lebih nada hoo
lambat, bergema sering muncul, rendah pada nada yang sama, kicauan ini
kadang dijawab oleh betina dengan rangkaian siulan menurun, woo owoo owoo owoo owoo OWOO.
Persebaran :
Meliputi
perbukitan dan pegunungan bawah di papua dan pulau misool, pada
ketinggian 600-1500 m (kadang dari permukaan laut sampai 1750 m).
Manukodia umum di habitat yang terganggu di lembah-lembah dataran
tinggi seperti Wau dan Sungai Baiyer.
7. Manukodia Jambul Keriting (Manucodia comrii)
Curl-crested Manucode (Curl-breasted Manucode)
Deskripsi :
44
cm. Di Pulau D’Entrecasteaux dan Pulau Trobriand. Berukuran besar
mirip gagak, kaku, di habitat berpohon di pulau-pulau ini, bulu keriting
di mahkota dan bulu ekor tengah keriting mudah dikenali. Perhatikan
cara terbangnya bergelombang, terkulai, khas manukodia lainnya.
Jenis Serupa :
Gagak
orru
agak mirip tetapi cara terbangnya berbeda, bentuk dan perilakunya
berbeda. Manukodia terompet jauh lebih kecil, lebih suka bersembunyi.
Perilaku :
Tidak
waspada dan penuh rasa ingin tahu, sendirian atau dalam kelompok
mencari makan, burung paling mencolok di habitat ini, jantan sering
bertengger di tempat terbuka dan postur tubuhnya sangat aneh saat
berkicau. Di hutan pada semua ketinggian, kebun-kebun dan bahkan di
dataran berpohon di pantai pulau-pulau tertentu di kelompok pulau papua
timur.
Suara :
Khas
woodloodloodloodloodl meratap,
rendah, rangkaian, mengalir, nadanya agak menurun dan volumenya semakin
pelan, suara lain lebih singkat (4 detik), lebih berirama, bernada
lebih tinggi dan menurun cepat, suara ini dikeluarkan sepanjang hari dan
selama satu jam sebelum fajar.
Persebaran :
Kelompok pulau papua timur : Pulau D’enctrecateaux dan trobriand, dari ketinggian permukaan laut sampai 2200 m.
8. Manukodia Jobi (Manucodia jobiensis)
Jobi Manucode
Deskripsi :
33
cm. Di barat laut dan Sepik-Ramu. Perlu hati-hati
mengidentifikasinya, perhatikan ukuran relatif kecil, pendek, berujung
ekor agak persegi, dan paruhnya tumpul.
Jenis Serupa :
Lihat catatan untuk manukodia leher-keriting dan manukodia kilap. Manukodia terompet bulu-bulu lehernya memanjang.
Perilaku :
Mirip dengan manukodia lainnya. Dataran rendah dan hutan perbukitan bawah dan tepi hutan.
Suara :
Kicauan berupa rangkaian nada
hoo bergema, sangat mirip dengan suara manukodia leher keriting. Suara chig atau bcheg parau.
Persebaran :
Pulau
Yapen dan Pulau Papua bagian barat, dari teluk cendrawasih ke arah
timur, di utara sampai madang (barat laut, sepik-ramu), di selatan
sampai Sungai setekwa (Barat Daya paling barat). Dari ketinggian
permukaan laut sampai 500 m. Kelihatannya tidak ada di daerah kepala
burung.
9. Manukodia Trompet (Manucodia keraudrenii)
Trumpet Manucode (Trumpet Bird, Phonygammus keraudrenii)
Deskripsi :
28
cm. Burung hutan pemalu, mirip gagak, hitam biru metalik dengan
tengkuk berbulu kasar pada bulu-bulu leher yang longgar, sering
terdengar tetapi sulit diamati. Ciri bulu-bulu leher sering sulit
dilihat. Remaja tidak berkilauan.
Jenis Serupa :
Lihat
empat jenis sebelumnya. Sering tumpang tindih dengan manukodia
leher-keriting, yang lebih gelap, ekornya lebih panjang dan bulunya
pendek, berkerut di leher, tenggorokan dan punggung.
Perilaku :
Bersembunyi
di kanopi hutan, biasanya terlihat ketika terbang. Berpasangan atau
berkelompok di pohon-pohon yang sedang berbuah (lebih menyukai pohon
ara). Hutan bagian dalam, kurang umum di tepi hutan dan di
kebun-kebun. Monogami.
Suara :
Nada suara
pendek bervariasi, sering dikeluarkan berduet bergiliran parau,
memanjang (suara mirip membuka tenggorokan yang sakit). Juga sengau,
bersambungan naik turun, dan nada
wodldldldldl rendah, gemetar, memanjang, gugup. Burung mengembangkan bada sesaat sebelum bersuara.
Persebaran :
Sebagian
besar di pegunungan Papua (tidak tercatat di pegunungan di huon atau
cycloops) di hutan pada ketinggian 200-2000 m. Langka di dataran rendah
bagian utara di barat. Di dataran rendah kepulauan Aru dan Kepulauan
D’Entrecasteaux, dataran rendah dn pegunungan bawah di daerah kepala
burung, selatan dan tenggara. Juga di australia bagian timur laut.
10. Paradigalla Ekor Panjang (Paradigalla carunculata)
Long-tailed Paradigalla
Deskripsi :
38
cm. Bagian barat pegunungan jayawijaya dan daerah kepala burung.
Burung hitam sedang besar dengan gelambir kuning mencolok di dahi dan
ekor bentuk baji.
Jenis Serupa :
Hampir identik dengan paradigalla ibinimi, kecuali ekornya yang sangat pendek, tidak bertingkat-tingkat.
Perilaku :
Tidak
diketahui, kemungkinan banyak kemiripan dengan jenis berikutnya.
Terlihat makan buah tumbuhan bawah dan bertengger teratur di puncak
tegakan tinggi terbuka seperti yang dilakukan jalak. Di hutan
pegunungan dan tepi hutan.
Persebaran :
Daerah
kepala burung (pegunungan arfak) dan bagian barat pegunungan jaya
wijaya (ke arah timur sampai ilaga), pada ketinggian 1400-2200 m.
11. Paradigalla Ibinimi (Paradigalla brevicauda)
Short-tailed Paradigalla
Deskripsi :
23
cm. Tubuh hitam pendek gemuk, gelambir dahi kuning, paruh lurus
samping dan ekor tumpul pendek, hitam beledu, tetapi mahkotanya hitam
kehijauan berkilauan. Sayap berdesir ketika terbang.
Jenis Serupa :
Dari
banyak cendrawasih hitam, hanya paradigalla ekor-panjang yang sangat
jarang, memiliki gelambir dahi kuning yang sangat mirip jenis ini.
Parotia jantan dewasa ekornya sangat pendek, tetapi juga menunjukkan
kawat kepala mencolok dan tidak ada gelambir.
Perilaku :
Sendirian
atau berpasangan, mencari buah atau invertebrata berkulit dan
berlumut. Menghuni lapisan tengah dan atas kanopi hutan pegunungan dan
tepi hutan.
Suara :
Rangkaian siulan
bernada tinggi dengan nada meratap, empat nada menaik, bagian akhir
memanjang dan menyambung naik. Hoo ee syahdu, burung ini dapat
dipanggil dengan meniru suaranya. Suara lainnya mirip versi pelan suara
cendrawasih kerah :
churn churn churn…
Persebaran :
Terpencar
di seluruh pegunungan di jajaran pegunungan tengah ke arah timur sampai
dataran tinggi timur, pada ketinggian 1600-2580 m. Tidak ada di daerah
kepala burung dan tenggara.
12. Toowa Cemerlang (Ptiloris magnificus)
Magnificent Riflebird (Craspedophora magnifica)
Deskripsi :
33
cm. Pemalu tapi bersuara nyaring dan tersebar luas. Jantan besar
sekali, gelap, paruh panjang, ekor pendek dengan sayap bundar yang
berdesir keras ketika terbang. Betina memiliki tubuh bagian atas kayu
manis, alis dan kumis pucat, iris gelap, tubuh bagian bawah berpalang
dan paruhnya panjang.
Jenis Serupa :
Manukodia
lebih ramping, ekor panjang. Parotia jantan berparuh pendek, kepala
besar. Cendrawasih kerah jantan, biasanya di dataran yang lebih tinggi,
lebih ramping, jauh lebih kecil. Cendrawasih mati-kawat betina
bertudung hitam, dengan sayap merah-karat kelam dan tungkai
merah-jambu. Sayap cendrawasih mati-kawat jantan berdesis keras, bukan
berdesir.
Perilaku :
Jantan bersuara keras
dari tenggeran kanopi di kawasan ini. Sebagian besar makan artropoda,
dengan cara menjalar dan makan beberapa buah. Memahat di kayu mati.
Bergabung dengan kawanan pitohui/tepus. Menghuni hutan dan tepi hutan
dataran rendah dan pegunungan bawah.
Suara :
Dua populasi mengeluarkan suara berbeda. Burung di bagian timur sepik ramu di utara dan kikori/purari di selatan bersuara
uRAUow-urauow
keras, mengerang, menggeram, bagian pertama lebih tinggi dan lebih
keras, kadang bersuara tiga nada atau lebih. Burung di bagian barat
bersuara
woiiieet-woit! Keras, mengalir, sepasang (atau 3-5)
nada, menaik bagian pertama jernih dan jangkauan nadanya lebih besar,
pasangan suara ini tidak dikeluarkan secepat suara paruh sabit kurikuri.
13. Cendrawasih Mati Kawat (Seleucidis melanoleuca)
Twelve-wired Bird of paradise (Seleucides ignota)
Deskripsi :
34
cm. Jantan yang waspada paruhnya panjang, ekor pendek, pola tebal
hitam dan kuning, paling mudah ditemukan dari suaranya yang keras dan
desisan saya keras ketika terbang. Betina berpalang di bagian bawah,
bagian atas merah-karat, tudung hitam, iris merah, dan tungkai
merah-jambu terang. Kawat melengkung ke atas pada jantan sulit dilihat.
Jenis Serupa :
Toowa
agak lebih kecil, bentuknya mirip, tetapi sayapnya berdesir (bukan
berdesis) ketika terbang. Lihat catatan untuk jenis ini.
Perilaku :
Jantan
sangat pemalu, kecuali saat bersuara dan memperagakan bulu dari cabang
mati di kanopi atas saat senja. Ketika terbang, sayap jantan bersuara
tss tss tss tss…
terdengar sampai jauh, bergabung dengan kawanan campuran pemakan
serangga. Makan artropoda, buah dan mungkin nektar. Lebih menyukai
hutan pamah yang kadang tergenang secara musiman, khususnya di mana
pandanus dan palma air seperti sagu umum terdapat. Burung yang belum
banyak diteliti ini terlihat menyimpang jauh dari habitat yang ideal
ini.
Suara :
Jantan bersuara sangat keras, terdengar sampai jauh, nada bergema dengan interval yang tidak teratur, kadang nada tunggal
hahrr atau
haahoh, suara
hahn sengau mendayu, atau rangkaian nada
koi-koi koi koi koi
semakin meninggi. Nada ini berdering melalui hutan rawa. Suara koi
jenis ini yang paling mirip dengan suara cendrawasih raggiana, tetapi
kurang dalam dan lebih parau.
Persebaran :
Hutan
pamah aluvial datar di pulau papua dan pulau salawati. Tidak ada di
kawasan berbukit, termasuk hampir semua pesisie utara di tenggara.
14. Paruh-sabit Ekor Kuning (Epimachus albertisi)
Buff-tailed Sicklebill (Black-billed Sicklebill, Drepanornis albertisi)
Deskripsi :
36
cm. Suara mencolok tetapi sangat sulit diamati, ketika terbang,
perhatikan ekor bundar yang mudah dikenali, warna kayu-manis bungalan,
dari dekat paruhnya ramping hitam, berbentuk sabit, dan ekor pendeknya
khas.
Jenis Serupa :
Di dalam habitatnya,
paruh-sabit coklat dan paruh-sabit kurikuri betina ekornya runcing lebih
panjang, lebih gelap. Paruh-sabit paruh-putih menghuni dataran rendah
dan paruhnya pucat.
Perilaku :
Suka
bersembunyi, penghuni kanopi hutan pegunungan, hampir hanya makan
serangga, mencari makan dengan cara menjalar, memeriksa kulit kayu dan
lubang pada kayu. Jantan bergaya dengan suara keras dari puncak pohon
tinggi di hutan, peragaan terbalik ditunjukkan di anak pohon atau di
semak belukar dekat tanah.
Suara :
Rangkaian
nada siulan berirama yang terdengar sampai jauh, semakin merendah,
semakin lama menjadi cepat dan nadanya menaik, lima belas sampai dua
puluh nada per kicauan, dikeluarkan dalam 2-3 detik. Nada penghubung
whenh?, sengau mendayu dan mirip dengan suara Parotia lawes atau
Astrapis stephanie.
Persebaran :
Terpencar
di seluruh jajaran pegunungan tengah, pegunungan di daerah kepala
burung, huon dan semenanjung wandammen dan pegunungan Foya dan Kumawa,
pada ketinggian 1100-1900 m (kadang 600-2250 m). Tidak ada catatan di
antara pegunungan Foya dan pegunungan Sepik, barat laut Gunung Hagen.
15. Paruh-sabit Paruh-putih (Epimachus bruijnii)
Pale-billed Sicklebill (White-billed Sicklebill atau lowland Sicklebill, Drepanornos bruijnii)
Deskripsi :
35
cm. Hanya di barat laut. Terlihat setelah terdengar. Paruh warna
tanduk pucat merupakan tanda pengenal terbaik di lapangan.
Jenis Serupa :
Paruh-sabit lain terdapat di dataran yang lebih tinggi, hanya jenis ini yang berparuh pucat.
Perilaku :
Sedikit
dikenal, di kanopi hutan, makan buah dan serangga. Kebanyakan catatan
dari hutan dataran rendah, tetapi tersebar luas dan umum dalam sebaran
yang terbatas.
Suara :
Jantan bersuara
empat sampai tujuh nada siulan keras, berirama, tetapi agak parau dan
bergema, yang nadanya menurun. Satu kicauan mengingatkan pada suara
toowa di pulau papua bagian barat, tetapi nadanya tidak memanjang jauh
melebihi skala. Dalam beberapa kicauan nada bersambungan naik, pada
jenis lain nadanya gemetar atau semakin merendah dan sering diakhiri
dengan nada berkumur di tenggorokan. Jantan juga mengeluarkan sedikit
nada penghubung mirip dengan suara paradisea.
Persebaran :
Barat
laut, sebelah utara cekungan Idenburg/Rouffaer, dari pesisir tenggara
teluk cendrawasih ke arah timur melintasi perbatasan Papua (vanimo).
Dataran rendah sampai ketinggian 175 m. Ada catatan yang belum
dikonfirmasi dari bagian paling barat dataran rendah Sepik.
16. Paruh-sabit Kurikuri (Epimachus fastuosus)
Black Sicklebill (Black Sickle-billed Bird of Paradise Epimachus fastosus)
Deskripsi :
110
cm. Suara jantan adalah cara terbaik menemukannya, di daerah kepala
burung jantan seluruhnya hitam atau coklat kehitaman, dengan bulu ekor
tengah lanset sangat panjang dan paruhnya berbentuk sabit, betina labih
mirip dengan paruh sabit lain, iris jantan merah, betina coklat.
Jenis serupa :
Jantan
paruh-sabit coklat berdada coklat, paruh lebih ramping dan mata biru,
paruh sabit coklat betina bermata biru, paruh lebih ramping dan tidak
ada warna kadru di ujung sayap, yang mencolok pada paruh sabit kuri-kuri
betina. Dalam kondisi hutan, sering sulit memisahkan betina
paruh-sabit ekor panjang dari astrapia, periksa bentuk paruh dan
perhatikan ekor beberapa astrapia betina yang hampir meruncing.
Perilaku :
Kanopi
hutan, suara jantan dari hari ke hari dari petak yang sama di hutan dan
mungkin memperagakan diri dan berpasangan di situ juga. Tempat
bersuara biasanya di lereng curam sisi bukit. Memakan buah dan
artoproda yang diambil dari kayu kulit kayu dan lumut. Hutan pegunungan
tengah di zona ketinggian yang rendah, di bawah persebaran paruh-sabit
coklat.
Suara :
Jantan mengeluarkan sepasang nada identik,
quik! quik! Sangat keras, tajam, mengalir. Nada suara mirip dengan suara paruh-sabit coklat.
Persebaran :
Jajaran
pegunungan tengah (kecuali tenggara), pegunungan di daerah kepala
burung dan semenanjung Wandammen, kawasan pesisir utara dan gunung
Bosavi (purari-kikori), pada ketinggian 1300-2540 m. Umum di beberapa
tempat tetapi tidak ada di banyak tempat lainnya.
17. Paruh-sabit Coklat (Epimachus meyeri)
Brown Sicklebill (Brown Sickle-billed Bird of Paradise)
Deskripsi :
100
cm. Suara mudah dikenali. Perhatikan paruh hitam sangat ramping yang
melengkung tajam ke bawah. Jantan memiliki ekor runcing yang sangat
panjang, dada coklat-jelaga dan iris biru. Betina dengan mahkota kadru,
ekor panjang, bertingkat-tingkat dan iris biru pucat.
Jenis Serupa :
Paruh
sabit kuri-kuri jantan atau dewasa biasanya kehitaman tidak ada
sedikitpun warna abu-abu atau coklat di dada atau kedua sisi tubuh,
paruh sabit kuri-kuri betina ujung sayapnya kadru, mata coklat dan paruh
lebih tebal, melengkung tidak terlalu tajam. Astrapia betina biasa
mencari makan dengan paruh-sabit betina dan keduanya sangat mirip,
mengamati paruh sangat berguna untuk identifikasi.
Perilaku :
Jantan
pemalu, sendirian dan bersuara dari tempat-tempat di kanopi sepanjang
pagi. Betina relatif jinak saat mencari makan serangga dan kodok kecil
atau kadal di dahan-dahan berlumut. Menghuni hutan pegunungan tengah,
paling umum di kanopi hutan lumut, walaupun burung-burung pernah
terlihat di atas tanah di sepanjang tepi jalan. Jantan sering bersuara
dari sisi jurang curam.
Suara :
Jantan bersuara
TAT-AT, TAT-AT-TAT-AT (di tenggara) atau
TAT-AT-ATAT, TAT-AT-AT-AT-AT-AT
(di dataran tinggi tengah) keras tidak berirama, tajam, cepat
berkali-kali setiap pagi. Suara ini memiliki kualitas seperti suara
yang dihasilkan oleh mesin bor angin atau ledakan senapan mesin.
Nadanya yang tajam kadang bercampur aduk dengan nada cegukan mengalir
dalam rangkaian menaik. Nada suara
nreh! Mirip suara cendrawasih biru.
Persebaran :
Jajaran
pegunungan tengah, pada ketinggian 2000-3125 m. Tidak ada di daerah
kepala burung dan semenanjung huon. Kelihatan jenis ini dan paruh sabit
kuri-kuri hanya ada pada kisaran ketinggian tempat mereka saling
bertemu, dimana jenis ini terdapat pada zona yang lebih tinggi.
Paruh-sabit ekor-kuning dan paruh-sabit ekor-coklat berbagi hutan di
beberapa tempat ketinggian sekitar 2000 m, tetapi paruh-sabit
ekor-kuning umumnya di ketinggian lebih rendah.
18. Astrapia Arfak (Astrapia nigra)
Arfak Astrapia (Black Astrapia, Arfak Bird of Paradise)
Deskripsi :
76 cm. Pegunungan arfak di daerah kepala burung. Perhatikan paruh pendek dan ekor panjang tumpul.
Jenis Serupa :
Paruh
sabir kuri-kuri jantan jauh lebih besar dan bersuara lebih nyaring.
Paruh sabit kuri-kuri betina sayap dan mahkotanya berwarna kadru.
Perilaku :
Kurang dikenali, tercatat memakan buah pandanus. Hutan pegunungan.
Persebaran :
Pegunungan arfak (daerah kepala burung), pada ketinggian 1700-2250 m. Satu catatan terlihat di pegunungan Tamrau.
19. Astrapia Cemerlang (Astrapia splendidissima)
Splendid Astrapia (Splendid Bird of Paradise)
Deskripsi :
46 cm. Seperti astrapia lainnya tetapi ekornya pendek, dasar putih, berujung seperti gada.
Jenis Serupa :
Jantan
unik. Betina mirip dengan astrapia ekor putih betina, astrapia
ekor-putih ekornya lebih panjang, lebih sempit, dengan sapuan putih.
Dua astrapia lainnya bertemu di dataran tinggi tengah, 150 km sebelah
timur perbatasan papua, tetapi eksplorasi ornitologi di kawasan ini
masih belum banyak dilakukan.
Perilaku :
Tenang,
pencari makan secara teratur, mengais artropoda dan vertebrata kecil di
lumut dan kulit kayu, dan makan buah dari epifit kecil tumbuhan
Schefflera dan pandanus. Hutan pegunungan dan subalpin.
Suara :
Jantan mengeluarkan nada tunggal diulang dari tempat bersuara yang tinggi di tepi punggung bukit curam :
gree membosankan, mirip katak, dikeluarkan setiap 20-30 detik.
Persebaran :
Pegunungan
Jayawijaya dan Pegunungan Star ke timur paling sedikit sampai
pegunungan victor emanuel, pada ketinggian 1800-3450 m. Batas paling
timur persebarannya tidak diketahui.
20. Astrapia Ekor Putih (Astrapia mayeri)
Ribbon tailed Astrapia (Ribbon-tailes Bird of paradise)
Deskripsi :
135
cm. Persebaran terbatas. Jantan ekornya seperti pita putih unik.
Pada betina kepalanya kehijauan, dan ekor agak runcing, agak sempit
dengan sapuan warna putih di sepanjang urat halus bulu-bulu tengahnya.
Jenis Serupa :
Betina
sangat mirip dengan astrapia stephanie betina, yang kepalanya tidak
hijau berkilau dan yang ekornya lebih lebar, seluruhnya hitam. Astrapia
cemerlang betina ekornya berujung bundar, dasar putih mencolok.
Perilaku :
Tenang
dan tidak waspada, mencari mangsa kecil di dahan-dahan berlumut dan
makan buah dari epifit kecil tumbuhan merambat Schefflera di hutan
pegunungan tinggi. Sayap jantan berdesir gaduh ketika terbang.
Suara :
Hanya
sedikit yang tercatat. Jantan muda berekor pendek mengeluarkan
sejumlah nada suara saat mencari makan, semuanya khas astrapia, mendayu,
sengau mirip katak, beberapa adalah nada tunggal,
wreden, lainnya adalah nada ganda :
kuweep werwer,
reaou reaou atau
wreden weep!.
Persebaran :
Bagian
darat dataran tinggi tengah, dari pegunungan hagen dan giluwe ke barat
sampai sekitar 130 km, pada ketinggian 2400-3400 m. Bagian paling barat
persebarannya tidak diketahui . Di daerah berketinggian lebih rendah
di lereng barat daya Gunung Hagen dan di celah tari, jenis ini
hibridisasi dengan astrapia stephanie.
21. Astrapia Stephanie (Astrapia stephanie)
Stephanie’s Astrapia (Princess Stephania Astrapia)
Deskripsi :
84
cm. Jantan gemuk pendek, hitam, kepalanya hijau berkilauan dan ekornya
berbentuk pita berujung tumpul spektakular. Betina kehitaman, bagian
bawah berpalang halus dan ekornya memanjang, lebih ramping, lebih
pendek, seluruhnya hitam.
Jenis Serupa :
Dalam
semua fase bulu, paruh-sabit kuri-kuri dan paruh sabit coklat sangat
mirip, tetapi paruhnya panjang, beberapa astrapia betina bulu ekornya
runcing. Astrapia ekor-putih betina ekornya ramping dengan sedikit
warna putih, kedua jenis menghuni hutan di barat daya gunung hagen,
jenis yang hibrid tidak langka, khususnya di habitat yang terganggu di
sekitar ketinggian 2800 m.
Perilaku :
Tenang,
tidak mengeluarkan suara keras untuk peragaan, individu tidak mencolok,
tidak waspada dan sering diamati dalam kelompok mencari makan yang
renggang, kadang bersama paruh-sabit. Sayap jantan dewasa berdesir khas
ketika terbang, yang dapat terdengar sampai 20-30 m. Jantan tampaknya
memperagakan diri secara komunal di tempat kecil yang terbuka di hutan.
Makanan buah dan artropoda, individu menghabiskan waktu mengumpulkan
dahan-dahan dan memeriksa lumut dahan-dahan kanopi. Cara terbangnya
khas astrapia, jenis ini melakukan beberapa kepakan cepat disertai
dengan sekali melayang, ekor panjang terseret mencolok. Hutan
pegunungan dan tepi hutan, umum di habitat yang terganggu di tepi jalan,
walaupun jantan dewasa jarang terlihat di tempat tersebut.
Suara :
Biasanya diam, kadang mengeluarkan nada mirip kucing atau bahkan mirip katak dengan nada yang terus naik :
whenh ?
Persebaran :
Dataran
tinggi tengah, dataran tinggi timur dan pegunungan di tenggara. Ke
barat sampai gunung giluwe dan pegunungan schrader, pada ketinggian
2000-2600 m (jarang 1700-2800 m). Digantikan oleh kerabat dekatnya di
daerah pegunungan lainnya.
22. Astrapia Huon (Astrapia rotschildii)
Huon Astrapia (Rotschild’s astrapia, huon bird of paradise)
Deskripsi :
68
cm. Pegunungan di semenanjung huon. Khas astrapia, tetapi baik jantan
maupun betina bagian bawahnya hitam (betina berpalang halus
keputih-putihan).
Jenis Serupa :
Antara
ketinggian 1500-1700 m burung ini hidup bersama parotia wahnes, yang
tubuhnya lebih besar dan ekornya yang berbentuk baji lebih pendek.
Parotia betina memiliki lebih banyak coklat kemerahan pada tubuh bagian
atas, parotia jantan lebih aktif dan suaranya lebih nyaring.
Perilaku :
Tenang, tidak waspada, menghuni kanopi dan lapisan tengah hutan pegunungan dan subalpin. Berperagaan di puncak pohon.
Suara :
Nada suara
kak mirip tangkar
Persebaran :
Pegunungan di semenanjung huon, pada ketinggian 1500-3500 m.
23. Cendrawasih Kerah (Lophorina superba)
Superb Bird of Paradise
Deskripsi :
25
cm. Jantan hitam dengan warna biru berkilauan, penutup dada berbentuk
baji dan tudung hitam beledu, tegak (panjang 6 cm). Bulu betina
bervariasi secara geografis seperti pada parotia betina, cendrawasih
kerah betina sangat mirip dengan parotia di daerah barat, kecuali
ukurannya lebih kecil, iris gelap dan paruh cendrawasih kerah lebih
ramping. Lihat tudung kehitaman, alis dan garis malar pucat, coklat
merah berkilauan di tepi bulu-bulu primer. Beberapa populasi berkepala
hitam.
Jenis Serupa :
Jantan lebih kecil,
lebih ramping dan paruhnya lebih ramping daripada parotia. Cendrawasih
loria jantan ukurannya sama tetapi tidak ada hiasan. Parotia carola
betina lebih montok, dengan iris pucat dan dahi pucat. Cendrawasih
belah rotan betina tidak ada hitam di muka dan tidak ada coklat merah di
sayap.
Perilaku :
Tersebar luas, umum,
jenis hutan yang menghuni kanopi dan lapisan kanopi tengah, mencari
artropoda dan juga buah. Suara jantan sering dari kanopi bertengger
sepanjang hari. Penutup dada meluas permanen. Di hutan pegunungan dan
tepi hutan, kebun-kebun tua dan semak hutan sekunder, secara ekologis
merupakan salah satu dari jenis dari suku Paradiseae yang paling
toleran.
Suara :
Kicauan berupa rangkaian tujuh sampai sepuluh nada identik, parau dan agak semakin meninggi :
shre shre shre shre shre shre shre shre,
nada menjadi agak lebih keras dan semakin lebih lambat ke bagian akhir,
selama 3 detik. Sering melengking di pagi dan sepanjang hari.
Persebaran :
Jajaran
pegunungan tengah, pegunungan di daerah kepala burung, semenanjung
Wandammen dan semenanjung huon dan pegunungan adelbert, pada ketinggian
1500-1800 m (kadang 1150-2300 m).
24. Parotia Wahnes (Parotia wahnesi)
Wahnes’s Parotia (Huon Parotia, wahnes’s six-wired parotia)
Deskripsi :
43
cm. Hanya di huon dan pegunungan adelbert, jantan hitam dengan kawat
kepala berbentuk sudip, ekor panjang dan tenggorokan berkilau. Betina
coklat kemerahan terang di bagian atas, berpalang halus di bagian bawah.
Jenis Serupa :
Astrapia
huon ekornya lebih panjang, berujung tumpul (bukan bentuk baji), tubuh
lebih kecil. Cendrwasih kerah jauh lebih kecil, dan ekornya pendek,
bersegi.
Perilaku :
Jantan membangun tempat
pentas menari membersihkan tanah di hutan pegunungan tengah. Kepakan
sayap jantan menghasilkan suara yang terdengar berdesir. Memakan buah
dan artropoda.
Suara :
Raungan ganda, parau, dengan kualitas mirip kakatua :
khh kaak. Jantan di tempat pentasnya mengeluarkan nada mencicit sengau.
Persebaran :
Pegunungan di semenanjung huon dan kawasan adelbert, pada ketinggian 1100-1700 m.
25. Parotia Arfak (Parotia sefilata)
Western Parotia (Arfak six-wired bird of paradise, arfak parotia)
Deskripsi :
33
cm. Perhatikan persebaran yang terbatas. Jantan hitam, dengan panjang
ekor sedang, bercak dada berkilauan dan kawat kepala berbentuk sudip,
betina coklat gelap di bagian atas, dengan tudung hitam dan bagian bawah
berpalang halus. Dalam semua fase bulu, iris biru dengan lingkaran
luar kuning.
Jenis Serupa :
Cendrawasih
kerah lebih kecil, pada jantan berkas bulu tebal di kepalanya dan pada
betina alisnya pucat. Toowa betina tubuh bagian atasnya coklat merah
berkilauan, ekor lebih pendek dan paruhnya lebih panjang.
Perilaku :
Jantan
membersihkan tanah untuk menari di lantai hutan. Dikenal makan buah
pohon ara dan pala, vertebrata kecil dan mungkin artropoda tertentu.
Menghuni hutan pegunungan tengah.
Suara :
Gnaad gnaad sangat parau. Nadanya mirip kakatua, mungkin dapat dikacaukan dengan suara namdur di daerah kepala burung.
Persebaran :
Pegunungan di semenanjung daerah kepala burung dan semenanjung wandammen, pada ketinggian 1400-1800 m.
26. Parotia Carola (Parotia carolae)
Carola’s Parotia (Queen Carola’s Six-wired Bird of Paradise)
Deskripsi :
27
cm. Burung jantan pemalu, montok, hitam dengan bulu sisi tubuh putih
kelas ketika terbang, perhatikan juga jambang dan alis keemasan. Betina
dengan iris dan alis pucat, tidak ada warna hitam di kepala. Bulu
betina bervariasi menurut geografinya.
Jenis serupa :
Parotia
lawes jantan tidak ada warna putih dan sawo matang di kedua sisi
tubuh. Cendrawasih kerah betina sangat mirip, tetapi dan irisnya
gelap. Cendrawasih belah-rotan betina jauh lebih kecil, dan irisnya
gelap.
Perilaku :
Jantan sulit diamati,
kecuali saat menari di atas tanah. Sebaliknya burung-burung tetap
tinggal di kanopi. Makan buah dan juga mengais artropoda dari
dahan-dahan yang lebih besar di hutan pegunungan tengah, kadang terlihat
di tepi hutan di pohon-pohon yang sedang berbuah.
Suara :
Yang paling umum terdengar adalah
whee o weet!
Keras, berirama dan riang, sering dikeluarkan oleh seekor jantan lalu
diulang oleh burung lain di sekitarnya. Kadang bersambungan menjadi
kwoieet cepat. Suaranya adalah cara terbaik menemukan burung yang sangat sukar ditangkap ini.
Persebaran :
Setengah
bagian barat jajaran pegunungan tengah, pegunungan jayawijaya dan
pegunungan star dan dataran tinggi tengah, ke timur sampai sejauh aliran
sungai jimi di utara dan wahgi di selatan. Juga di pegunungan foya
pada ketinggian 1200-1800 m. Tumpang tindih dengan parotia lawes di
timur.
27. Parotia Lawes (Parotia lawesii)
Lawes’s Parotia (Lawes’s Six-wired Bird of Paradise, Eastern Parotia, termasuk Parotia helenae)
Deskripsi :
28
cm. Jantan hitam, montok, ekor pendek dan sayap lebar, kawat kepala
sulit dilihat. Betina coklat berkilauan di bagian atas, berpalang halus
di bagian bawah, kepala besar kaku, mahkota, tengkuk dan pipi hitam
mudah dikenali. Jantan dan betina irisnya biru. Populasi bagian timur
(helenae) memiliki berkas bulu gelap di hidung.
Jenis Serupa :
Parotia
carola jantan kedua sisi tubuhnya putih mencolok, mahkota dan
tenggorokannya berwarna tembaga. Parotia carola betina alisnya pucat
mudah dikenali dan iris keputih-putihan. Cendrawasih kerah (jantan dan
betina) lebih kecil dan lebih ramping. Jantan memiliki berkas bulu
tengkuk hitam besar, betina sangat mirip, tetapi kecil, dengan alis
pucat dan iris gelap.
Suara :
Jantan
bersuara tidak teratur dari pagi sampai sore, tidak diulang-ulang,
kontras dari kebanyakan burung cendrawasih lainnya. Suara jantan kraanh
! kraanh ! sangat kasar, tidak merdu, biasanya bernada ganda, tetapi
berkisar dari satu sampai enam nada. Juga wrenh ? sengau, nada berubah
naik, agak berirama, disuarakan oleh jantan dan betina. Di tempat
pentas sengau mencicit.
Persebaran :
Dataran
tinggi tengah dan timur dan pegunungan di tenggara, dari tari dan
gunung giluwe ke arah timur, pada ketinggian 1400-1900 m (jarang pada
750-2300 m). Populasi di bagian utara barisan tebing di bagian paling
timur tenggara (helenae) kadang dimasukkan dalam jenis lainnya.
28. Cendrawasih Panji (Pteridophora albertii)
King of Saxony Bird of Paradise (Kissaba)
Deskripsi :
22
cm. Bulu kepal panjangnya 40 cm. Dengarkan suara aneh mirip
serangga. Jantan hitam sangat kecil, dada, perut dan bulu ketiaknya
bungalan kuning, jantan dewasa memiliki dua bulu kepala yang sangat
panjang, biru mutiara, mirip plastik. Betina keabu-abuan, bagian bawah
pucat bersisik halus dan penutup ekor bawah.
Jenis Serupa :
Jantan unik. Betina samar, dapat dikelirukan dengan isap-madu.
Perilaku :
Jantan
bersuara dari tempat berkicau di dahan besar tinggi di kanopi hutan.
Bulu kepala tegak lurus dan dapat digerakkan ke semua arah. Memakan
buah dan serangga di kulit kayu. Menghuni hutan berlumut dan tepi hutan
pegunungan tinggi. Burung berbulu betina sering umum di tepi hutan
tetapi jantan dewas jarang.
Suara :
Jantan
mengeluarkan kicauan peragaan diri yang berlangsung sekitar 3 detik,
volume meningkat secara bertahap dan suaranya mirip serangga, nada
berdesis bercampur aduk yang dikeluarkan seperti letusan senapan mesin
dan bernada gelombang radioo yang buruk, akhirnya menaik sampai
klimaks-nya mencicit. Suara jantan mudah seperti cemooh monoton
diulang, mengingatkan pada suara kepudang-sungu kepala-hitam, empat atau
lima nada, rangkaian nada agak menaik, setiap nada parau, mengalir dan
besambungan menurun, chweer chweer chweer chweer chweer chweer.
Persebaran :
Jajaran
pegunungan tengah ke timur sampai sejauh dataran tinggi timur
(kepulauan bismarck dan kawasan kratke), pada ketinggian 1500-2850 m.
Umum hanya di ketinggian yang lebih tinggi. Tidak ada di tenggara.
29. Cendrawasih Raja (Cicinnurus regius)
King Bird Paradise
Deskripsi :
16
cm. Jantan kecil, terlihat seperti tanpa ekor, perut putih, kepala dan
punggung merah terang, dua kawat ekor masing-masing berujung piringan
bulu hijau. Betina berpalang samar, halus di bagian bawah, muka sawo
matang pucat, paruh kuning gading dan bulu lonjong di dahi memanjang
sampai paruh, ujung sayap kadru. Jantan dan betina memiliki tungkai
biru.
Jenis serupa :
Cendrawasih
belah-rotan betina (umum di habitat yang sama) tudungnya lebih gelap,
paruh dan garis mata kebiruan, ujung sayapnya kusam. Saat terlihat di
kanopi , palang-palang dari beberapa kedasi dapat dikacaukan dengan
cendrawasih raja betina, perhatikan warna berkilauan pada kangkok,
bentuknya berbeda.
Perilaku :
Jantan
memperagakan diri dan bersuara berulang-ulang dari cabang tumbuhan
merambat setinggi 15-20 m, sulit diamati walaupun dalam jarak dekat.
Memakan buah dan artropoda, dataran rendah dan hutan perbukitan dan tepi
hutan. Sering bergabung dalam kelompok campuran yang sedang mencari
makan.
Suara :
Jantan sering sekali
bersuara dalam satu jam, di beberapa lokasi, pasangan atau kelompok
jantan berkerumun dan sering sekali bersuara. Satu suara adalah
kraan kraan kraan kraan kraan kraan kraan mengalir, agak berirama mirip suara di antara dua ekor cendrawasih belah rotan dan cendrawasih raggiana. Juga rangkaian suara
kyar kyar kyar kyar kyar… bernada lebih tinggi, tidak mengalir, lebih cepat dan bersambungan turun sangat besar. Sering dikeluarkan suara nada
kyer kyer, mendayu dan sengau, nada pertama lebih tinggi.
Persebaran :
Dataran
rendah dan perbukitan Pulau Papua, dari ketinggian permukaan laut
sampai 300 m (jarang sampai 850 m). Juga di kepulauan aru, pulau
misool, pulau salawati dan pulau yapen.
30. Cendrawasih Belah Rotan (Cicinnurus magnificus)
Magnificent Bird of Paradise (Diphyllodes magnificus)
Deskripsi :
18
cm. Berukuran kecil, pendek gemuk, ekornya pendek. Jantan montok,
terlihat seperti tidak berekor (kawat sulit dilihat), bagian bawah
gelap, bagian atas keemasan. Betina sulit didefinisikan, bagian atas
coklat, tidak ada pola di muka atau hanya terlihat dengan garis di
belakang mata, paruh dan tungkai biru pucat, kecil.
Jenis Serupa :
Di
hutan, warna dan bulu jantan sulit dilihat, tetapi polanya unik.
Cendrawasih reja betina lebih kecil, paruh kekuningan, dahi lonjong dan
sayapnya kadru. Cendrawasih kerah betina memiliki alis, paruh dan
tungkai hitam, dan sayapnya kadru.
Perilaku :
Jantan
memperagakan diri dari tempat pentas di atas tanah hutan, mirip
parotia. Sayap jantan mengeluarkan bunyi berkeletak khas, seperti dua
kerikil beradu cepat. Memakan buah dan artropoda. Sering berada di
pohon yang sama tempat burung cendrawasih lainnya mencari makan. Di
banyak tempat, berdampingan dengan cendrawasih kerah atau cendrawasih
raja. DI hutan pamah perbukitan dan hutan pegunungan bawah, tepi hutan
dan hutan sekunder.
Suara :
Jantan, seperti
suara parotia, dikeluarkan tidak teratur dan tidak dapat diramalkan,
mencakup rangkaian getaran mengalir, tiap nada identik dan bersambungan
menurun,
churn churr churn churr churn, juga
kyerng ! keras, tajam, agak berirama, di dekat lahan tempat pentas mengeluarkan celotehan
kss-hss ks ks ks – kss.
Persebaran :
Di
seluruh dataran tinggi berhutan di pulau papua, pulau salawati, pulau
yapen (dan misool), dari kaki bukit ketinggian permukaan laut sampai
1450 m (1600 m). Jarang atau tidak ada di hutan aluvial dataran rendah
yang datar.
31. Cendrawasih Botak (Cicinnurus respublica)
Wilsons bird of Paradise (Waigeu Bird of Paradise, Diphyllodes respublica)
Deskripsi :
17
cm. Hanya ada di dua pulau di sebelah barat daerah kepala burung.
Jantan maupun betina unik, memiliki kulit biru gundul di puncak kepala.
Jenis Serupa :
Betina
sangat mirip Cendrawasih raja betina, yang tidak ada di kedua pulau
yang dihuni oleh cendrawasih botak. Pada Cendrawasih raja tidak ada
warna biru di mahkota.
Perilaku :
Jantan
memperagakan diri di tempat pantas di atas tanah. Burung yang
tertangkap makan buah dan artropoda. Menghuni hutan perbukitan.
Suara :
Jantan
memiliki daftar kicauan mirip dengan cendrawasih belah rotan, rangkaian
nada parau diulang dan rangkaian nada jernih diulang :
too too too too too WHIT, nada terakhir menaik tajam menghasilkan suara seperti lecutan, juga
keetch tajam meledak, dan
teel lembut, bernada tinggi.
Persebaran :
Waigeo dan batanta di kelompok pulau papua barat, di atas ketinggian 300 m.
32. Cendrawasih Raggiana (Paradiseaea raggiana)
Raggiana Bird of Paradise (Count Raggi’s Bird of Paradise)
Deskripsi :
33
cm. Sering ditemukan di kebanyakan habitat di bagian timur pulau
papua. Bersuara sangat nyaring. Terbang terkulai dan bergelombang.
Jantan dewasa memiliki pinggiran bulu jingga, dagu hijau dan mahkota dan
tengkuk kuning. Betina tidak berpalang coklat, dengan tengkuk dan
mahkota bagian belakang kuning kusam.
Jenis Serupa :
Paradiseaea
jantan mudah diidentifikasi dari warna bulu dan persebarannya. Betina
marga lain biasanya berpalang di bagian bawah. Cendrawasih kecil betina
bagian bawahnya putih, cendrawasih kaisar seluruh mahkotanya gelap,
cendrawasih besar seluruh tubuh sama coklat dan cendrawasih biru betina
berpalang di bagian bawah, punggungnya biru. Cendrawasih raggiana
berdampingan dengan cendrawasih kaisar di daerah utara antara sungai
huon dan sungai baiyer dan cendrawasih besar di trans-fly dan di hulu
sungai fly.
Perilaku :
Jantan memperagakan
diri secara komunal dengan cara tradisional di kanopi pohon di kanopi
pohon, yang merupakan tempat terbaik untuk melihat bulu burung jantan
yang sulit ditangkap. Makan buah dan artropoda. Relatif tidak
waspada. Di dataran rendah dan hutan pegunungan bawah, kebuh dan hutan
sekunder. Burung berbulu betina sangat menonjol, khususnya di habitat
yang terganggu.
Suara :
Variasi nada
berkokok keras : 1) rangkaian suara seperti terompet parau, sangat
keras, semua pada nada yang sama, tetapi volumenya bertambah dan
melambat di bagian akhir :
wau wau wau Wau Wau Wau Waauuu Waauuu Waauu!,
2) selusin atau lebih gaokan keras dengan nada menaik sangat cepat dan
kecepatan berkurang, sering diakhiri dengan dua nada atau lebih nada
rendah bergaok dengan interval lebih panjang, 3) saat bergairah dan
memperagakan diri, beberapa jantan mengeluarkan suara
ki ki hi ki ki ki…
bernada tinggi, sengau, cepat, dengan nada dan intensitas yang naik dan
turun, 4) nada tunggal kiing dikeluarkan di pohon tempat peragaan saat
jantan tak bergerak, dan 5) celotehan
kuss-kuss kuss kuss-kuss kuss… pelan dikeluarkan oleh betina.
Persebaran :
Pulau
Papua bagian barat , di utara ke arah barat sampai Madang dan Sungai
Baiyer (jarang), di selatan sampai sungai Wahgi (bagian dalam) dan
Sungai Fly/Strickland, di mana burung ini mungkin hibridisasi dengan
cendrawasih besar. Populasi terisolasi di bagian barat menghuni sisa
hutan hujan di Trans-Fly (di Morehead).
33. Cendrawasih Besar (Paradiseae apoda)
Greater Bird of Paradise (beberapa pakar menganggap jenis ini sama dengan reggiana)
Deskripsi :
44
cm. Di barat daya dan kepulauan Aru jantan mirip Cendrawasih kecil,
tetapi dengan “bantalan” dada coklat hitam. Betina unik, coklat gelap
seragam berkilauan, tidak berpalang.
Perilaku :
Seperti Cendrawasih raggiana. Di dataran rendah, hutan perbukitan dan tepi hutan.
Suara :
WANK WANK WANK WOK WOK WOK. Wauk atau
wonk
keras, dengan sejumlah pola suara : umumnya empat atau lima nada,
1/detik. Secara umum, kualitas suaranya mirip cendrawasih raggiana.
Persebaran :
Barat
daya dan kepulauan aru ke timur sampai sungai fly dan mungkin sungai
strickland (jarang?), ke barat sepanjang bagian selatan lereng jajaran
pegunungan tengah sampai sungai mimika, dari ketinggian permukaan laut
sampai 920 m. Di timur kemungkinan tumpang tindih dengan cendrawasih
raggiana (hibrid diketahui), di barat berdampingan dengan cendrawasih
kecil, tetapi rincian tumpang tindih dan keberadaan hibrid tidak di
ketahui.
34. Cendrawasih Kecil (Parediseae minor)
Lesser Bird of Paradise
Deskripsi :
32
cm. Suaranya terdengar terus menerus di seluruh hutan di daerah
persebarannya. Khas Paradiseae, tetapi perhatikan bulu kuning pucat dan
tidak ada bantalan tebal kehitaman di dada bagian atas pada jantan.
Tubuh bagian bawah betina putih unik.
Jenis Serupa :
Cendrawasih
raggiana jantan bulunya jingga, cendrawasih besar jantan memiliki
bantalan bulu kehitaman besar di dada bagian atas. Cendrawasih raggiana
dan cendrawasih besar betina bagian bawahnya gelap.
Perilaku :
Seperti cendrawasih raggiana. Di hutan, tepi hutan dan hutan sekunder dataran rendah, perbukitan dan pegunungan bawah.
Suara :
Mirip
dengan suara cendrawasih raggiana tetapi cukup berarti perbedaannya,
lebih bernada suara cendrawasih kaisar. Suara khas dimulai dengan
rangkaian tiga sampai enam nada
waik, wik, atau
ka, disertai dengan
wok
bernada jauh lebih rendah. Juga rangkaian mengalir, mendesak, sengau,
dikeluarkan saat jantan menjadi bergairah di pohon tempat peragaannya,
werrd werrd werrd werrd …
suara lebih ringan/suara likwida, dengan kisaran nada yang besar, lebih
tinggi dan lebih rendah daripada suara cendrawasih raggiana. Juga :
Wik
wong-wau wau dan
quee-qwer qwer qwer qwer.
Persebaran :
Daerah
kepala burung, barat laut dan kawasan sepik-ramu, tidak selalu ada di
lereng bagian utara huon, bagian paling barat, barat-daya (ke arah barat
daya teluk etna), yapen dan kepulauan misool, dari ketinggian permukaan
laut sampai 1000 m (jarang sampai 1600 m).
35. Cendrawasih Goldie (Paradiseae decora)
Goldie’s bird of paradise
Deskripsi :
32
cm. Perbukitan Pulau Fergusson dan Pulau Normanby. Jantan dadanya
abu-abu dan berbulu merah. Betina berpalang halus di bagian bawah.
Jenis Serupa :
Satu-satunya cendrawasih lain di kepulauan D’Entrecasteaux adalah manukodia.
Perilaku :
Jantan
peragaan dalam kelompok yang renggang, dengan dua jantan setiap pohon.
Makanan mungkin mirip dengan cendrawasih raggiana, tetapi cendrawasih
goldie secara teratur makan di bagian bawah hutan, bahkan di permukaan
tanah. Hutan perbukitan, tepi hutan dan hutan sekunder.
Suara :
Ketika Menyatakan diri bersuara
wok wok, suara memperagakan diri w
hick whick. Jantan melakukan duet seperti suara terompet.
Persebaran :
Terbatas
di dua pulau di kelompok pulau papua timur, fergusson dan normanby, di
perbukitan pada ketinggian dari 300 m sampai paling rendah 600 m.
36. Cendrawasih Merah (Paradiseae rubra)
Red Bird of Paradise
Deskripsi :
33
cm. Di kelompok pulau papua barat. Jantan memiliki kawat ekor
terpilin mencolok, hitam, dan bulunya merah kelam. Betina bermuka
coklat gelap dan dadanya kuning krem.
Jenis Serupa :
Satu-satunya jenis Paradiseae di pulau yang dihuninya.
Perilaku :
Memperagakan
diri komunal di pohon tradisional. Makanan buah (termasuk pohon ara)
dan artropoda, cara makan seperti burung pelatuk di dahan-dahan dan
batang pohon. Di hutan dan tepi daratan rendah perbukitan. Biasanya
tetap bersembunyi di dalam kanopi ketika bersuara. Bergabung dengan
kawasan pitohui karat.
Suara :
Work wok – wak wak wak …, juga
ka ka ka ka ka bernada lebih tinggi. Nada dikeluarkan sedikit lebih cepat dari 1/detik.
Persebaran :
Waigeo, batanta, Gemien dan Saonek di kelompok pulau papua barat, dari ketinggian permukaan laut sampai 600 m.
37. Cendrawasih Kaisar (Paradiseae guilielmi)
Emperor Bird of Paradise (Emperor of Germany Bird of Paradise)
Deskripsi :
29
cm. Perbukitan di semenanjung huon. Suara mudah dikenali. Pada
jantan mahkota dan mukanya hijau gelap, dengan bulu putih seperti
filamen pendek yang jarang, juga bercak putih di perut bagian bawah.
Betina seluruh mahkotanya gelap dan warna kuning di tengkuk memanjang
sampai punggung.
Jenis Serupa :
Jantan unik. Betina mirip cendrawasih raggiana tetapi lebih kecil, mahkotanya gelap dan tanpa berkas bulu mencolok di dada.
Perilaku :
Sangat
bergerombol, kelompok betina dan jantan sering terlihat berpindah
melalui hutan. Jantan memperagakan diri secara komunal. Tidak
wasapada. Memakan buah dan artropoda. Kanopi hutan dan tepi hutan
perbukitan dan pegunungan bawah.
Suara :
Beberapa suara tertentu mengingatkan pada cendrawasih raggiana, tetapi diselingi oleh rangkaian nada
bok bok bok bok bok yang jelas, mengalir dan berirama, 1/detik, juga lima sampai sembilan nada mirip seruling tinggi,
wiew wiew wiew wiew ….,
masing-masing dengan suara nada meninggi. Di tempat memperagakan diri
tinggi, jantan mengeluarkan suara balasan, masing-masing bwuick
mengalir, semakin meninggi dalam rangkaian cepat. Suara jenis ini
paling bervariasi dan berirama dari semua paradiseae.
Persebaran :
Pegunungan semenanjung huon, pada ketinggian 500-1350 m.
38. Cendrawasih Biru (Paradiseae rudolphii)
Blue Bird of Paradise
Deskripsi :
30
cm. Paling mudah ditemukan dari suaranya atau mengamatinya di pohon
yang sedang berbuah. Perhatikan paruh putih, lingkaran mata putih,
tudung hitam dan punggungnya biru. Bulu biru pada jantan pendek, tetapi
dua bulu ekor hitam berbentuk pita sangat panjang. Betina mirip jantan
tetapi bagian bawahnya kadru berpalang hitam, dan tidak ada bulu.
Jenis Serupa :
Tidak
ada jenis lain yang kepalanya hitam mencolok dengan paruh dan lingkar
mata putih. Cendrawasih raggiana dan cendrawasih kecil lebih besar,
lebih ramping dan ekornya lebih panjang.
Perilaku :
Jantan
dewasa sendirian, sering sulit diamati. Berkicau setiap pagi dari
tenggeran terbuka di kanopi hutan di sisi punggung bukit. Mencari buah
dan artropoda di kanopi hutan pegunungan tengah dan tepi hutan.
Biasanya hanya burung berbulu betina terlihat di habitat yang
terganggu. Dari lembah ke lembah variasinya yang sangat banyak sulit
dipahami. Di beberapa tempat jantan dewasa jinak dan mudah diamati di
kebun-kebun dan di tepi hutan.
Suara :
Rangkaian mendayu dengan nada semakin merendah, lebih sengau dan lebih tinggi daripada cendrawasih raggiana,
wahr wahr wahr wahr wahr. Saat bergerak berputar dari tempat bernyanyi ke pohon lain, jantan mengeluarkan nada
brrn brnn
rendah, menggeram, mengalir. Bersuara rendah menjengkelkan atau suara
gaduh berdengung seperti logam, sambil memperagakan diri terbalik.
Persebaran :
Bagian
timur dan jajaran pegunungan tengah, tenggara, dataran tinggi timur dan
dataran tinggi tengah ke barat paling dekat sampai kawasan kubor dan
jimi wahgi divide, pada ketinggian 1300-1800 m. Ada laporan yang belum
dikonfirmasi ke arah barat sampai sejauh tari.